Tiga Suara dari Rumah Rapuh: Antara Takut, Pasrah, dan Tetap Berjuang
SURABAYA, StRoom – Malam selalu menjadi ujian bagi Sumardiono (66). Setiap kali hujan turun, ia tidak pernah benar-benar tidur. Di rumahnya yang berdinding gedek rapuh di Jalan Kalimas Baru 1/33-A, Surabaya, suara hujan bukan sekadar gemericik air, melainkan tanda bahaya.
“Kalau hujan deras, kami tidak tidur. Air masuk dari mana-mana. Saya takut tembok ini roboh,” kata Sumardiono lirih.
Usianya tak lagi muda. Tenaganya kian terbatas. Namun rumah itulah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki bersama istrinya, Endang Suparmi (61), dan anak mereka, Naufal Hakim Mardikama (25), lulusan SMP yang hingga kini belum bekerja.
Endang menyimpan ketakutan yang lebih sunyi. Ia bukan hanya takut rumahnya runtuh, tetapi takut kehilangan suaminya, takut tidak mampu menyelamatkan diri jika sesuatu terjadi.
“Kalau angin besar datang, saya cuma bisa berdoa. Takut plastik plafon terbang, takut genteng jatuh. Kami sudah tua, Mas, tidak kuat kalau kenapa-kenapa,” ucap Endang dengan mata berkaca-kaca.
Di rumah beratap plastik itu, Endang juga memendam kegelisahan sebagai seorang ibu.
“Saya kasihan anak saya. Hidupnya ikut susah karena orang tuanya tidak punya apa-apa. Rumah saja seperti ini,” katanya pelan, seolah takut suaranya terlalu keras untuk kenyataan yang mereka jalani.
Harapan Sumardiono sebenarnya sederhana. Bukan rumah mewah, bukan pula janji besar.
“Kami tidak minta macam-macam. Cukup rumah ini aman, tidak bocor, tidak membahayakan. Itu saja sudah alhamdulillah,” ujarnya.
Kondisi inilah yang mengetuk nurani Moch. Azhari, Ketua Pengurus Anak Cabang Pabean Cantian. Ia melihat langsung bahwa persoalan ini bukan semata bangunan yang rusak, melainkan soal martabat manusia. Azhari berupaya memperjuangkan agar Sumardiono mendapat program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dari Pemerintah Kota Surabaya.
Namun harapan itu tertahan oleh status tanah yang diklaim milik PT Kereta Api Indonesia. Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) tak bisa menjangkau mereka. Kini, Sumardiono hanya menunggu kemungkinan bantuan dari BAZNAS Pemkot Surabaya.
Di sudut kota lain, Moch. Hidayat menjalani nasib yang tak jauh berbeda. Rumahnya bahkan tidak memiliki tembok. Panas, hujan, dan angin masuk tanpa izin. Sudah dua tahun ia menunggu bantuan, dua tahun pula harapan itu menggantung.
“Sudah dua tahun saya belum mendapat bantuan, baik dari Rutilahu maupun BAZNAS. Teman-teman sebenarnya sudah banyak membantu saya. Tapi belum ada hasil. Saya dan keluarga pasrah,” kata Hidayat.
Namun kepasrahan itu bukan tanda menyerah. Di tengah hidup yang serba kekurangan, Hidayat tetap memilih untuk hadir dan berjuang—bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk orang lain.
“Walaupun kondisi saya seperti ini, saya masih aktif dan menjadi pengurus PDI Perjuangan. Rezeki itu Tuhan yang mengatur, perjuangan adalah kewajiban kita,” tuturnya tegas.
Tiga suara itu—Sumardiono yang takut, Endang yang cemas, dan Hidayat yang pasrah namun teguh—adalah potret wajah kemiskinan kota yang sering luput dari sorotan. Mereka hidup di rumah rapuh, terjepit di antara kebutuhan hidup dan batas-batas administratif.
Dalam situasi seperti ini, pesan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menemukan maknanya yang paling nyata: kader harus hadir bersama rakyat yang dimarjinalkan—bukan sekadar memberi, tetapi berjalan dan berjuang bersama.
Di rumah gedek dan rumah tanpa tembok itu, kemanusiaan diuji setiap kali hujan turun. Dan di sanalah pula, martabat manusia dipertahankan—dengan doa, dengan pasrah, dan dengan keyakinan bahwa perjuangan tidak boleh berhenti, meski hidup berjalan terseok-seok.





