Satunya Kata dan Perbuatan: Jalan Ideologis Kepemimpinan Megawati

Surabaya, StRoom – Perayaan ulang tahun Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, kerap disalahpahami sebagai pengkultusan individu. Padahal, dalam tradisi ideologis PDI Perjuangan, peringatan itu justru dimaksudkan sebagai laku reflektif—sebuah praktik politik untuk menguji kesetiaan kader pada nilai, bukan pada figur semata.

Dalam kerangka Soekarnoisme, politik bukan urusan personalitas, melainkan kesadaran historis dan ideologis. Bung Karno mengingatkan bahwa Pancasila bukan mantra yang dihafal, melainkan weltanschauung—pandangan hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Di titik inilah figur Megawati ditempatkan: bukan sebagai objek pemujaan, tetapi sebagai contoh praksis ideologi.

Yang direfleksikan dari Ibu Megawati adalah kesatuan antara berpikir, berbicara, dan bertindak—prinsip yang sejalan dengan etika politik Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dalam sikap rendah hati dan kesadaran moral; Kemanusiaan yang Adil dan Beradab hadir dalam keberpihakan pada wong cilik; Persatuan Indonesia dijaga melalui keteguhan menjaga konstitusi; Kerakyatan diwujudkan lewat disiplin organisasi dan penghormatan pada keputusan kolektif; dan Keadilan Sosial menjadi orientasi akhir dari seluruh perjuangan politik.

Dalam konteks politik Indonesia yang semakin pragmatis, Pancasila sering direduksi menjadi slogan seremonial. Soekarnoisme pun kerap disalahartikan sebagai romantisme masa lalu. Padahal, esensinya adalah keberanian berpihak: berpihak pada rakyat, pada kedaulatan nasional, dan pada keadilan sosial. Di sinilah relevansi kepemimpinan Megawati diuji—dan justru terbukti—karena ia memilih konsistensi ideologis di tengah godaan kompromi oportunistik.

Sejak masa tekanan politik hingga memimpin negara, sikap Megawati menunjukkan watak non-kompromi terhadap prinsip, namun fleksibel dalam strategi. Ini adalah ciri klasik Soekarnoisme: keras pada nilai, lentur pada taktik. Politik tidak dijalankan sebagai seni memuaskan semua pihak, melainkan sebagai tanggung jawab sejarah terhadap cita-cita kemerdekaan.

Karena itu, kewajiban merayakan ulang tahun Ketua Umum PDI Perjuangan bukanlah bentuk kultus individu, melainkan ritus ideologis—sebuah momentum untuk bertanya secara jujur: apakah kader masih berpikir dalam kerangka Pancasila? Apakah keputusan politik masih berorientasi pada keadilan sosial? Ataukah ideologi hanya tinggal simbol tanpa laku?

Dalam tradisi PDI Perjuangan, loyalitas tertinggi bukan pada sosok, melainkan pada ajaran dan nilai yang diwariskan oleh Soekarno dan dijaga kesinambungannya. Ulang tahun Ibu Megawati adalah pengingat bahwa politik sejati menuntut satunya kata dan perbuatan—sebuah prinsip yang sederhana, namun paling sulit dijalankan.

Dan justru karena sulit itulah, ia layak terus direfleksikan.

H.SYAIFUDDIN ZUHRI
SEKRETARIS DPC PDI PERJUANGAN KOTA SURABAYA

Bagikan :