Rocky Gerung: Merawat Bumi Seperti Merawat Rumah Tangga Kita Sendiri

Surabaya, StRoom – Dalam sebuah renungan yang sederhana namun penuh makna, Rocky Gerung mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk politik dan pembangunan yang sering kali melupakan hal paling mendasar: bumi tempat kita hidup. Ia mengingatkan bahwa bumi bukan sekadar lahan untuk dieksploitasi, melainkan rumah bersama yang menopang kehidupan dan akan diwariskan kepada anak cucu.

Rocky mengibaratkan bumi sebagai sebuah rumah tangga. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi ruang hidup yang harus dijaga dan dirawat bersama. Jika atap bocor atau dinding rusak, tidak ada gunanya saling menyalahkan. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk memperbaiki dan menjaga agar rumah tetap layak dihuni. Begitu pula dengan bumi—merawat lingkungan adalah tanggung jawab moral, bukan sekadar program pembangunan atau slogan.

Menurutnya, banyak persoalan lingkungan hari ini muncul karena cara pandang yang keliru. Bumi diperlakukan sebagai alat produksi semata, bukan sebagai ruang hidup bersama. Padahal, dalam sebuah rumah tangga, tidak ada anggota yang berhak mengambil hak orang lain secara berlebihan. Ketika keserakahan terjadi, yang rusak bukan hanya alam, tetapi juga keadilan dan masa depan bersama.

Gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana. Dalam lawatannya ke Surabaya untuk menghadiri acara Spirit of Humanity and Human Solidarity yang digelar pada Sabtu, 17 Januari 2026, Rocky Gerung menyempatkan diri menanam pohon bakau di kawasan Eco Wisata Mangrove Gunung Anyar. Kegiatan ini dilakukan bersama Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mantan Wali Kota Surabaya sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan Tri Rismaharini, serta Wakil Wali Kota Surabaya yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Ir. Armuji.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Hj. Syaifuddin Zuhri, serta jajaran pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Penanaman mangrove ini menjadi simbol nyata dari pesan yang kerap disampaikan Rocky tentang tanggung jawab moral manusia dalam merawat bumi.

Dari pemikiran tersebut, Rocky menyampaikan sebuah gagasan simbolik yang mudah dipahami: setiap pasangan yang menikah sebaiknya menanam pohon. Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga menandai lahirnya masa depan baru. Menanam pohon menjadi simbol tanggung jawab—bahwa cinta tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian terhadap alam dan generasi mendatang.

Pohon yang ditanam bukan sekadar seremoni. Ia tumbuh seiring waktu, menghasilkan oksigen, menjaga air tanah, dan menjadi saksi bahwa komitmen manusia juga memiliki dampak bagi lingkungan. Jika pernikahan adalah awal membangun rumah tangga, maka pohon adalah penyangga kehidupan bagi rumah besar bernama bumi.

Melalui gagasan ini, Rocky Gerung mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak semata diukur dari tingginya gedung atau cepatnya pertumbuhan ekonomi. Peradaban yang matang justru terlihat dari kemampuan manusia menjaga rumahnya sendiri. Merawat bumi berarti merawat kehidupan, dan itulah bentuk tanggung jawab paling nyata kepada sesama dan generasi yang akan datang.

Bagikan :